Jangan Jadi ATM untuk Keluarga Besar

Entrepreneurship2,793 views

 

Bekerja di luar negeri dengan penghasilan dalam bentuk mata uang asing tentu akan lebih besar dari penghasilan di dalam negeri.

Penghasilan yang menumpuk dari bulan ke bulan atau dari tahun ke tahun tentu menciptakan godaan tersendiri. Godan untuk orang lain maupun godaan untuk diri sendiri. Keluarga dan keluarga besar akan tergoda untuk minta bantuan.

Apakah dalam bentuk bantuan rutin untuk sekolah/kuliah atau juga untuk pinjaman modal. Beranilah untuk mengatakan “tidak” daripada jadi “ATM” terus menerus.

Di dalam berbagai kasus permintaan pinjaman tsb tidak penting-penting banget. Misalnya pinjaman untuk beli barang konsumtif.

Pinjaman juga patut ditolak bila biaya tersebut harusnya jadi tanggung jawab dari anggota keluarga tsb dan anggota keluarga tsb akan sanggup membiayai bila mereka berusaha dan bekerja keras.

Misalnya biaya sekolah keponakan-keponakan. Jadi cari kata-kata yang tepat untuk menolak dengan halus.
Di dalam situasi tertentu misalnya keadaan darurat mungkin sulit sekali atau mau tidak mau kita harus membantu. Bagaimana caranya agar risikonya jangan terlalu besar.

Di bawah ini ada 3 saran.

 

Batasi

Batasi berapa yang anda bisa bantu. Katakan saja hanya sejumlah ini yang bisa diberikan. Yang memiliki kebutuhan bukan hanya peminjam, kita juga memiliki kebutuhan bukan?

Buat Target

Minta target waktu akan sampai kapan bantuan harus dilakukan. Sesudah tanggal tersebut tidak akan ada lagi bantuan.

Patungan

Ajak peminjam untuk juga meminta bantuan dari anggota keluarga lain. Sehingga pinjaman lebih terbuka dan lebih banyak yang memikul. Ini akan membuat peminjam lebih bertanggung jawab.

 

Catatan oleh

Dr. Ir. Antonius Tanan, M.B.A.,M.Sc.,M.A :
-Pakar entrepreneurship Universitas Ciputra

-Independent Commissioner PT.Ciputra Development Tbk

-Pengasuh kelompok belajar Sekolah Kehidupan Entrepreneurship (SKE). Tulisan ini dilansir dari grup SKE.

 

News Feed