Pemanfaatan Nuklir untuk Kesehatan

Nasional3,384 views

Untuk menjajaki kerja sama pemanfaatan teknologi nuklir dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), PT Interskala Healthcare Indonesia berkunjung ke fasilitas nuklir. Lokasinya di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) G.A. Siwabessy, Jakarta serta fasilitas nuklir BRIN yang berada di KST B.J. Habibie, Serpong pada Rabu (21/09).

Director dan Founder PT Interskala Healtcare Indonesia, Deky Hapsoro Ajisantoso menyampaikan tujuan kunjungan itu untuk berdiskusi terkait teknologi yang ada di BRIN. Serta kemungkinan untuk bekerja sama, khususnya dalam pemanfaatan teknologi nuklir.

“Kedokteran nuklir dan pelayanan kanker di Indonesia sangat minim dan menyedihkan. Padahal Indonesia memiliki BRIN yang teknologinya bisa dioptimalkan. Kalau diberi kesempatan oleh BRIN, kami akan diskusi bagaimana swasta bisa bekerja sama dengan BRIN,” katanya dikutip dari siaran pers BRIN.

Menurut Deky fasilitas tersebut dapat dieksplor dan dimaksimalkan dengan menggandeng pihak swasta.

“Banyak yang dapat dieksplor, apakah itu teknologi nuklir untuk food atau untuk kesehatan. Jadi sebenarnya bisa dimaksimalkan,” katanya.

Beberapa fasilitas nuklir yang dikunjungi rombongan PT Interskala Healthcare Indonesia diantaranya Irradiator Serba Guna, Mesin Berkas Elektron, Irradiator Gamma Merah Putih (IGMP) serta Instalasi Produksi Radioisotop dan Radiofarmaka.

Menurut Deky teknologi produksi radiofarmaka yang ada di BRIN sangat menarik. Bagaimana memaksimalkan radiofarmaka yang sudah bisa dihasilkan, utilisasinya bisa ditingkatkan, sehingga demand Indonesia bisa terpenuhi.

“Penjajakan BRIN untuk berkemitraan dengan pihak swasta yang fokus di bidangnya akan sangat bermanfaat. Terutama untuk meningkatkan layanan kesehatan di Indonesia,” tambahnya.

Saat ini PT Interskala Healthcare Indonesia telah membeli siklotron yang rencananya akan dikerja samakan dan ditempatkan di BRIN.

Siklotron akan memproduksi F-18/FDG (fluorodeoxyglucose) yang akan didistribusikan di Indonesia. Deky berharap dapat segera melakukan kerja sama yang menghasilkan benefit dengan BRIN.

“Kita bisa optimalkan apa yang Indonesia punya untuk mengurangi impor. Kita bantu pelayanan kedokteran nuklir, kanker, kemudian hal-hal lain yang bisa kita utilisasi,” harapnya.

PT Interskala Healthcare Indonesia adalah perusahaan swasta yang bergerak sebagai importir, distributor dan manufaktur alat kesehatan. Terutama di bidang pelayanan onkologi dan kedokteran nuklir.

Selain itu Direktur Penguatan dan Kemitraan Infrastruktur Riset dan Inovasi – BRIN, Salim Mustofa menjelaskan kemungkinan kerja sama kemitraan BRIN dengan PT Interskala Healthcare Indonesia.

“Kerja sama kemitraan yang ditargetkan terutama dalam memberikan layanan di bidang kesehatan. Memanfaatkan teknologi nuklir untuk memenuhi kebutuhan Rumah Sakit di dalam negeri yang diperkirakan, secara tren, mengalami peningkatan ke depan,”terangnya.

Salim berharap kunjungan ini dapat menambah wawasan manajemen PT Interskala Healthcare Indonesia tentang aplikasi teknologi nuklir sebagai bahan masukan dalam diskusi tentang kerja sama kemitraan mendatang.

“Saya berharap PT Interskala Healthcare Indonesia bisa tahu lebih dekat infrastruktur teknologi nuklir yang dikelola BRIN, diantaranya irradiator serta fasilitas radioisotop dan radiofarmaka, dan juga target pemakaiannya, baik di sektor pertanian, perikanan maupun kesehatan,” terangnya.

Bambang Herutomo selaku Pimpinan PT Ion Merah Putih, pihak yang ditunjuk oleh BRIN sebagai pengelola IGMP menyambut kunjungan tersebut. Memberikan penjelasan tentang proses iradiasi di IGMP pada beberapa komoditi, seperti produk bahan pangan, kosmetik, produk herbal dan sterilisasi produk alat kesehatan.

“Pemanfaatan nuklir ini sebagai energi radiasi yang tinggi, sehingga dapat membunuh mikroba seperti bakteri, jamur (kapang), atau virus. Dengan cara radiasi, sterilisasi bisa diaplikasikan pada bahan dalam jumlah banyak sekaligus dengan satu kali proses,” kata Bambang.

“Proses ini juga lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan limbah. Keunggulan-keunggulan sterilisasi dengan radiasi di antaranya yaitu tidak merusak bahan yang disterilkan. Selain itu, sterilisasi dengan cara ini lebih efektif karena dapat mencapai 100% steril pada dosis tinggi,” tambahnya.

Sementara itu perwakilan dari Direktorat Pengelolaan Fasilitas Ketenaganukliran BRIN, Didik Setiaji menjelaskan tentang beberapa produk radioisotop dan kit radiofarmaka yang telah dihasilkan BRIN dan telah teregistrasi oleh BPOM.

Produk tersebut diantaranya Kit MIBI untuk mendiagnosis fungsi jantung, Kit MDP untuk diagnosis penyebaran kanker di dalam tulang, DTPA untuk diagnosis fungsi ginjal, senyawa bertanda 153 Sm-EDTMP atau samarium yang digunakan untuk terapi paliatif pada penderita kanker, serta radiofarmaka 131 I-MIBG untuk mendiagnosis kanker neuroblastoma pada anak-anak.(yer)