Cashflow Quadrant 

Oleh Antonius Tanan

Istilah Cashflow quadrant diperkenalkan oleh seorang pembicara dan penulis yang bernama Robert T Kiyosaki.

Ini adalah tentang 4 sumber pendapatan yang bisa didapat dalam hidup kita. Cashflow quadrant membagi sumber pendapatan seseorang menjadi empat kuadran yakni E, S, B, dan I.

1. E untuk Employee
Kotak E atau kuardan E adalah mereka yang bekerja sebagai seorang karyawan. Orang-orang di kuadran ini memiliki pendapatan tetap berupa gaji bulanan yang diberikan oleh perusahaan atau majikan. Pekerjaan ini memberikan kepastian dan jaminan penghasilan. Untuk mendapatkan penghasilan di pekerjaan ini maka orang menjual “waktu” nya. Ia bisa tetap berpenghasilan bila ia “memberikan waktunya” kepada majikan.

2. S untuk Self-Employed
Mereka yang berada di kuardan S adalah orang yang memiliki usaha sendiri dengan juga “menjual waktu”. Sebagai contoh adalah profesi dokter, notaris, agen real estate, agen asuransi. Mereka bukan karyawan, mereka jadi “boss” untuk diri sendiri dengan menjual keahlian mereka. Namun bila mereka sakit atau jalan-jalan ke tempat jauh “warungnya” tutup, mereka tidak bisa praktek dan tidak ada penghasilan. Jadi mereka juga menjual “waktu” mereka ke orang lain.

3. B untuk Business Owner
Kuadran B merupakan kuadran dari kelompok orang yang mendapatkan penghasilan tanpa harus terlibat langsung dalam kegiatan operasi perusahaan yang mereka miliki. Sebagai contoh orang yang berhasil membangun usaha toko atau restoran dengan sistem operasi yang sudah bisa berjalan sendiri tanpa kehadiran pemiliknya. Bila kita belanja di KFC atau McDonald bukah kita tak pernah dilayani langsung oleh pemiliknya?

Jadi yang berhasil masuk di kotak B adalah yang bisa mengembangkan usaha sedemikian rupa walau ia tidak ada usaha tetap jalan. Jadi orang seperti ini berhasil menjual “hasil pemikiran” dalam bentuk “sistem operasi perusahaan”.

4. I untuk Investor
Kuadran I merupakan kuadran dari kelompok orang yang mendapatkan penghasilan dari hasil investasi. Apakah itu investasi di produk keuangan, properti (rumah kos contohnya), tanah, saham perusahaan, emas dll. Orang-orang di kuardan ini bisa membuat “uang” miliknya berbiak sendiri. Ia tidak perlu mengerjakan sesuatu namun investasi tersebut yang seakan bekerja untuknya dan menghasilkan uang.

Untuk bisa masuk tahapan ini pertama haruslah belajar agar paham mana saja investasi yang benar dan tepat.
Melalui kuardan ini Robert Kiyosaki mengajarkan tentang kebebasan finansial yaitu tentang cara tetap mendapatkan uang walau nanti kita tidak sanggup bekerja lagi.

Sewaktu berusia lanjut nanti, sudah tidak sanggup bekerja dari mana dana untuk kehidupan akan kalian dapatkan

****

Tulisan Robert Kiyosaki tentang Cashflow Quadrant membuka mata kita tentang bagaimana kita semua menyambut masa lansia (lanjut usia).

Kita semua secara bertahap akan masuk di masa itu. Di masa lansia itu kita masih hidup dan bernafas namun mungkin sudah tidak mampu bekerja. Sebagian rekan saat ini sedang merawat kakek atau nenek bukan? Bayangkan kita menjadi seperti dia suatu kali kelak. Bila saat ini kita bekerja sebagai “employee” atau karyawan maka bila kita pensiun sebagai manajer atau direktur sekalipun maka pekerjaan tsb tidak bisa diwariskan ke anak-anak kita. Anak-anak kita tidak bisa menggantikan kita.

Tidak demikian bila jadi “self employed” yaitu seseorang yang punya usaha sendiri dengan menjual keahliannya.

Seorang kawan keluarga kami bekerja sebagai notaris. Anaknya juga kuliah di fakultas hukum dan kemudian belajar lagi untuk jadi notaris. Ia kemudian membantu ibunya di kantor notaris milik ibunya itu. Belum lama ini ibunya meninggal namun kantor notarisnya tidak tutup. Tentu papan namanya harus diganti. Dulu menggunakan papan nama dari ibunya sekarang menggunakan papan nama dari anaknya. Para pelanggan ibunya masih datang ke kantor notaris ini.

Ibu saya sudah berusia 85 tahun. Tubuhnya sudah lemah dan banyak yang lupa. Sejak muda ia bersama ayah saya membangun bisnis toko. Sekitar 20 tahun lalu adik saya yang paling kecil mulai masuk membantu dan kemudian mengembangkan toko ini. Hari ini ibu saya masih punya penghasilan karena ia sesungguhnya pemilik dari toko walau sudah tidak bisa bekerja di toko kami ini.

Jadi bila ibu saya ke dokter atau membeli apapun ia menggunakan uangnya sendiri. Ibu saya adalah seorang “business owner”.

Seorang teman baik istri saya baru saja ditinggalkan suaminya. Sangat beruntung keluarga ini cerdas menggunakan uang saat mereka muda.

Mereka berinvestasi di rumah kos di daerah Depok sehingga walau saat ini ia kehilangan penghasilan suami sebagai dosen ia masih mendapat penghasilan akhir bulan dari uang sewa kamar.

Ia bisa menyuruh orang lain untuk merawat rumah kos tsb. Jadi seakan ia tidak perlu bekerja lagi di usia yang memang sudah 60 tahun lebih. Untuk rekan dari istri saya ini “uangnya berbiak sendiri”.

Mari miliki kecerdasan finansial untuk dapat menyambut masa lansia yang pasti akan menemui kita. Pikirkan persiapan-persiapannya dan berusahalah tidak jadi beban bagi keluarga yang lebih muda di usia lanjut.

****

Dr. Ir. Antonius Tanan, M.B.A.,M.Sc.,M.A adalah pakar entrepreneurship Universitas Ciputra dan Pengasuh kelompok belajar Sekolah Kehidupan Entrepreneurship (SKE). Tulisan ini dilansir dari  grup SKE.