Umbi Hingga Daun Talas Beneng Bernilai Ekspor

Bisnis2,553 views
Previous Image
Next Image

info heading

info content

 

Pemerintah Provinsi Banten mengajak masyarakat untuk membudidayakan Talas Beneng.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distan) Provinsi Banten Agus M Tauchid mengatakan, saat ini luas lahan tanaman Talas Beneng  mencapai 263 hektar. Tersebar di tiga daerah, yakni Kabupaten Pandeglang 197 hektar, Kabupaten Serang 19 hektar dan Kabupaten Lebak 47 hektar.

“Talas Beneng ini bisa dikembangkan di seluruh wilayah di Provinsi Banten, baik perkotaan maupun pedesaan.Perawatannya juga terbilang mudah, cukup diberi pupuk serta penyiraman secara rutin. Tidak memerlukan perawatan khusus, ” kata Agus dalam keteranganya.

Agus melanjutkan, usia panen umbi-umbian asal Banten ini mencapai 10 bulan. Namun karena komoditi ini termasuk zero waste, sehingga daun dan batangnya juga bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomi yang cukup tinggi.

“Daunnya bisa dimanfaatkan ketika usia tanaman mencapai 4-9 bulan,” ujarnya.

Secara keseluruhan baik umbinya, batang maupun daunnya, ada 17 produk turunan atau hilirisasi yang bisa dioptimalkan. Seperti umbinya baik kering (Geplek) maupun basah. Daunnya juga baik kering maupun basah.

“Untuk kebutuhan di Bogor saja, dalam seminggu itu membutuhkan sekitar 7 ton umbi kering atau gaplek dari kita. Peluangnya sampai sekarang masih cukup tinggi, karena suplai kita masih belum mencapai itu,” jelasnya.

Daerah lainnya yang peluang permintaan umbi basah cukup tinggi itu seperti Bekasi sebanyak 8 ton per bulan, Sukabumi 7 ton per bulan dan Semarang 10 ton perhari.

Sedangkan batangnya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan industri tekstil setelah memasuki masa panen. Kemudian daunnya bisa dimanfaatkan sebagai bahan alternatif tembakau dengan kandungan nikotinnya sampai nol persen.

“Ada tujuh negara dengan permintaan ekspor yang cukup tinggi, seperti Australia, Belanda, Malaysia, India, Turkey, New Zealand dan Korea Selatan (Korsel). Australia dalam sebulan permintaan ekspornya mencapai 200 ton daun kering Talas Beneng, Malaysia 40 ton per bulan, dan New Zealand 100 ton per bulan,”jelasnya.

Lalu untuk permintaan umbi basahnya, Belanda membutuhkan 70 ton per bulan dan Korsel 100 ton per bulan. Untuk permintaan gaplek dari India dan Turkiye masing-masing sebanyak 50 ton per bulan.

“Daun talas beneng basah harga pasarannya Rp1.500/kg, daun keringnya Rp20.000/kg dan umbi basah Rp1.500 s.d 2.500/kg serta umbi kering Rp7.000/kg,” terangnya.

Untuk ketersediaannya sendiri, daun Talas Beneng basah baru mencapai 100 ton per bulan, daun kering 18 ton per bulan dari peluang pasar 322 ton per bulan. Lalu umbi basah 200-500 ton per bulan serta umbi kering 5 ton per bulan dari kebutuhan 25 ton.

“Pak Pj Gubernur Banten Al Muktabar sudah mencontohkan bagaimana kawasan di Rumah Dinas (Rumdin) banyak ditanami Talas Beneng, kita juga tentunya harus mengikuti juga,” katanya.

Sementara itu Anggota Komisi IV DPR RI Firman Soebagyo memimpin kunjungan kerja spesifik di Kelurahan Gelam, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Provinsi Banten, Senin (29/5)

Talas beneng itu telah diinisiasi oleh warga yang bernama Ibu Ruly yang masih perlu dukungan dari pemerintah pusat dan daerah.

“Budidaya talas beneng ini sangat surprise dalam membantu salah satu kebutuhan bahan pangan pokok. Artinya bahwa talas beneng ini memiliki prospek yang sangat bagus untuk mengatasi krisis pangan yang sudah di depan mata. Kami minta pemerintah harus dukung hal itu agar lebih optimal,” jelasnya.