Sariraya Pelopor Makan Halal di Jepang

Nasional2,352 views

 

Dalam rangkaian lawatan ke Jepang Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengunjungi Sariraya, pelopor bisnis makanan halal Indonesia di Jepang. Dia menyaksikan secara langsung proses kerja yang dilakukan untuk memproduksi makanan halal impor berkualitas pilihan kepada konsumen.

“Selama kunjungan ini, kami belajar tentang upaya signifikan yang dilakukan oleh Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) dalam memberikan sertifikasi halal kepada Usaha Mikro Kecil (UMK). Fakta bahwa 8.333 UMK telah mendapatkan sertifikasi halal dari 10.643, dengan 2.310 UMK lainnya yang diharapkan akan mendapatkan sertifikasi pada 2022, menunjukkan semakin pentingnya sertifikasi halal di Indonesia,” kata Menteri Teten (1/8)

Dia menyadari potensi sertifikasi halal sebagai alat yang ampuh bagi UMKM Indonesia untuk mendapatkan keunggulan kompetitif di pasar internasional. Dengan mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, produk dengan sertifikasi halal dapat meningkatkan kepercayaan dunia terhadap ekspor Indonesia.

Indonesia tercatat sebagai negara dengan potensi ekonomi syariah terbesar keempat di dunia dengan skor Global Islamic Economic Index (GIEI) sebesar 68,5 poin pada 2020.Menteri Teten meyakini ada potensi besar untuk kerja sama antara Sariraya dan Indonesia.

KemenKopUKM dikatakan dapat bekerja sama untuk memfasilitasi ekspor produk makanan dan minuman halal ke Jepang dan pasar internasional lainnya.

Selain itu rombongan MenKopUKM Teten Masduki juga melakukan kunjungan ke perusahaan perikanan terbesar di Jepang yakni Marusen Suisan, di Toyokawa, Aichi, Jepang.

Ia melihat ada potensi kerja sama yang dapat digarap antara Indonesia dan Jepang di bidang pengolahan hasil perikanan.

Teten menjaskan produksi perikanan tangkap di Indonesia khususnya perikanan laut tumbuh 2,23 persen dan perairan umum darat 2,71 persen pada 2020. Perdagangan bilateral untuk produk perikanan Indonesia cukup menggembirakan, dengan perkiraan nilai ekspor sebesar 6,24 miliar dolar AS dan volume sebesar 1,22 juta ton pada 2022.

Jepang merupakan salah satu negara tujuan utama ekspor perikanan Indonesia, dengan total ekspor sebesar 1.431,5 ton.

Selain berkunjung ke Marusen Suisan, MenKopUKM juga mendatangi Nagasaka Unagi Farm yang merupakan salah satu peternakan sidat terbesar di Jepang. Sidat merupakan ikan seperti belut yang panjangnya berkisar 80-125 cm.

“Di Pulau Jawa khususnya Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Cilacap merupakan sentra produksi belut dengan kapasitas produksi yang cukup besar. Namun, meskipun permintaan sidat di pasar luar negeri masih terbuka lebar mencapai 300.000 ton per tahun, Indonesia belum dapat sepenuhnya memenuhi permintaan tersebut,” kata Menteri Teten.