by

Pisang Dari Bondowoso Jadi Percontohan, Pemerintah Kembangkan Holtikultura Berorientasi Ekspor

-Bisnis-2,019 views

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian melakukan koordinasi antar kementerian, pemerintah daerah dan swasta untuk kembangkan holtikultura berorintasi ekspor. Caranya dengan menerapkan pola creating shared value (CSV).

Salah satu lokasi pengembangan hortikultura berorientasi ekspor adalah komoditas Pisang Cavendish di Desa Maskuning Kulon di Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur. Di desa itu berhasil melakukan panen perdana pada Sabtu (26/11).
Panen perdana itu dihadiri Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar. Turut hadir pula Wakil Gubernur Jawa Timur.

Mendes Abdul Halim Iskandar mengapresiasi keberhasilan panen pertama Pisang Cavendish dan mendukung berbagai program Pemerintah dalam upaya percepatan ekonomi di desa.

Berdasarkan penghitungan Great Giant Foods (GGF), satu tandan pisang Cavendish bernilai Rp 300 ribu. Sedangkan, lahan 1 hektar bisa ditanami 2.400 pisang Cavendish. Artinya, omset bisa lebih tujuh ratusan juta.

Selain itu, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso dalam acara itu menyampaikan bahwa panen Pisang Cavendish tersebut merupakan panen yang lebih cepat. Jika dibandingkan dengan panen pisang dalam program yang sama di Kabupaten Ponorogo, hanya membutuhkan waktu kurang lebih 10 bulan. Penanaman Pisang Cavendish di Desa Maskuning Kulon dilakukan pada 29 Januari 2022.

Dalam siaran pers, Kementerian Koordinator Perekonomian RI memilih Bondowoso menjadi salah satu demplot (demontration plot) atau lahan percontohan. Percontohan untuk penanaman pisang Cavendish berkualitas ekspor di Indonesia.

“Program ini kita inisiasi bersama-sama dan akan dilakukan di 11 Kabupaten di Indonesia. Saat ini sudah berjalan di delapan Kabupaten. Banyak Kepala Daerah lain yang sudah mengajak diskusi untuk program ini. Jadi, kami ingin disetiap daerah kita demplot dulu. Di daerah ini luasnya 1,8 hektar yang ditanami sekitar 4.400 pohon. Hari ini kita lihat panennya, dan termasuk yang paling bagus. Para petani di sini bisa melihat bahwa ini memang betul-betul program nyata yang secara ekonomi juga bisa menjadi harapan mereka,” kata Sesmenko Susiwijono.

Menurutnya, program tersebut bukan bagian dari corporate social responsibility (CSR), tetapi share value dengan petani. Konsep awalnya memang untuk memberdayakan petani. Program yang telah dilakukan, di Provinsi Jawa Timur dan diharapkan dapat direplikasi di daerah lain.

Pelaksanaan Program Pengembangan Hortikultura Berorientasi Ekspor tersebut dilakukan di Kabupaten Tanggamus (Lampung), Kabupaten Jembrana (Bali), Kabupaten Bener Meriah (Aceh). Di Pulau Jawa, program tersebut dilakukan di Kabupaten Garut (Jawa Barat), Kabupaten Sukabumi (Jawa Barat), Kabupaten Blitar (Jawa Timur), Kabupaten Ponorogo (Jawa Timur), dan Kabupaten Bondowoso (Jawa Timur).

Susiwijono mencontohkan salah satu peluang pasar pisang di Indonesia adalah Provinsi Bali. Bali memiliki kebutuhan pisang paling tinggi karena pisang dibutuhkan dalam upacara adat dan hotel sehingga dikirim kurang lebih 5.000 karton dari Lampung setiap minggu.

“Di Jawa Timur pun nanti tentu kita penuhi pasar domestiknya dulu, lalu kita bicara skalanya untuk ekspor, pasti untuk ekspor ada skala ekonominya,”jelasnya.

Dijelaskannya, Indonesia baru saja menembus pasar ekspor pisang ke Cina dan pisang tersebut akan diekspor dari Lampung. Berdasarkan nilai pisang Indonesia sebenarnya jauh lebih kompetitif dibanding pisang dari Filipina.

“Ketahanan pangan menjadi salah satu isu prioritas dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali. Menjadi lampiran dalam program-program G20 Bali Leaders’ Declaration kemarin. Karena itu, kalau ada program-program kemitraan Bumdes, dan sebagainya, kalau ada kesulitan dari skema pembiayaan, kita bisa duduk bersama. Karena ada banyak sekali komitmen dana yang justru kekurangan program konkretnya. Artinya, ditengah-tengah kondisi global yang tidak mudah, komitmen untuk membiayai ketahanan pangan luar biasa,” ungkap Susiwijono.(yer)